Awal dari suatu hubungan adalah tujuan. 4thn Silam, Shandy tersangkut pada cinta rumit. Ini cinta pertamanya yang sudah di rancang dengan kata ‘rumit’. Jelas terasa rumit ketika permainan cinta pun dilakukan di area Game Online. Game yang menghantarkan Shandy dan relasinya, bisa sedekat ini, tanpa pernah saling ber’empat mata’ di luar area online. Singkat cerita, dia jatuh cinta.
Berminggu-minggu ia bercerita tentang cinta, hanya lewat area online, dan masih terus berkutat dengan online. Terasa semakin lama semakin dekat, semakin hangat, semakin memuncak hasrat. Ada sekelibat rasa ingin ditemui sang relasi pujaan, katanya, tapi yaa demi menjaga nama baik GENGSI, dia tunggu waktu yang tepat kapan akan ditemui.
Tuhan.. Ini rumit.
Bukan tanpa terasa, ia lalui hubungan rumit dengan lawan mainnya 3thn sudah. Semua orang yang pernah dia sambangi untuk berbagi cerita tentang cintanya ini, sudah mengusulkan agar mereka harus bertemu, dimana dengan apa dan bagaimanapun cara nya, mereka harus bertemu. Selain dari usulan, hati yang semakin hari semakin susah untuk dibohongi pun ikut ambil peran dalam usaha ini.
Finally, Shandy coba beranikan diri, menendang jauh2 gengsi dan siap mulai memberi keputusan tegas. Menurutnya.. mengajak bertemu diwaktu tepat, pasti sekelibat akan terjawab. Dan benar, dengan alesan yang tidak jauh kuat dari keputusannya tadi, pintaan maaf sang pujaan pun terlontar karena kemungkinan yang Shandy harapkan tak bisa langsung terpenuhi, kecuali minggu depan. Suara serak basahnya tambah meyakinkannya untuk menunggu sang relasi minggu depan.
Kecewa, iya kecewa.. tapi ini lebih baik daripada tidak ada kata ‘minggu depan’. Shandy perempuan penyabar.
Tanaaa! Bulan April yang dinanti, minggu depan yang dijanjikan pun terpenuhi. Hari yang paling dinanti Shandy setelah 3thn belum pernah terbayang melihat orang yang selalu dia harapkan dan siap dia andalkan. Setelah semua ia siap kan secara matang, tak ketinggalan sebatang coklat didalam tas yang diselipkan rapih diantara rindu dan hasrat yang menggebu.
Blok M Plaza, tempat bersejarah baginya, mengawali bulan April yang diharapkan sudah matang dan jelas Shandy andalkan. Ia sampai ditempat yang mereka sepakati, 5menit.. 10menit.. 15menit.. hanya sekelibat orang yg tak ia kenal melirik tajam.
Dan suara khas serak basah yang biasa Shandy dengar hanya lewat telphon genggam mengagetkan penantiannya. “Maaf, udah lama nunggu yaa?” Berbalut kaos putih bertuliskan ‘SMILE’, dengan bawahan celana jeans panjang kece, ditambah tas punggung yang ngga kalah kece dari jeans nya.
Tetiba, sura riuh pengunjung mall pun terasa berhenti. OH MY… tapi tunggu! Ada yang salah dari kaos nya, bukan! Bukan kaosnya, tapi dibagian dadanya! Shandy meraba sendiri dadanya, dan ternyata… Tuhan, Shandy dan Sang relasi pujaan itu sama..
Ternyata waktu tiga tahun tak cukup buat Shandy untuk benar-benar tahu apa gender sang Pujaan.
Ketika mulutnya tak bisa berhenti menganga, ketika itu juga Sang pujaan yang telak mengecewakan Shandy sadar dengan apa yang sedang Shandy perhatikan. Dia bilang .. “Ini alasan sebenarnya, waktu tak memberi kita jumpa, kita sama. aku takut kamu terkejut, … aku takut kehilangan, kehilangan kamu.” Tanpa rasa marah karena telah dibohongi, penjelasan panjang bahwa Shandy tak bisa mengikuti apa yang terlanjur terjadi, Shandy sampaikan hati-hati berusaha agar tak ada yang tersakiti.
Tuhan.. Shandy salah jatuh cinta, orang yang terlanjur dia cintai ternyata bukan yang seharusnya dia cintai.
Dan kemudian baru dia tahu, ternyata harapan April yang sudah terlanjur diandalkan untuk membahagiakan hidupnya, secara keji menampar harapan palsu nya.
Maaf sayang, Shandy cinta sang pujaan. Sang pujaan cinta shandy, tapi Tuhan lebih mencintai keduanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar